Sepatu Boot Terakhir Bapak Setiap sore, Dio selalu menunggu suara derak pintu dapur. Itu tandanya Bapak baru saja pulang dari tempat pengerjaan proyek bangunan. Sepatu boot karet kuning Bapak biasanya sudah penuh lumpur, dan wajah Bapak selalu tampak sangat lelah. Namun, sore itu berbeda. Bapak pulang lebih cepat. Ia duduk di teras, memeluk lututnya, dan menatap lurus ke halaman depan. Di sampingnya, ada sebuah amplop cokelat yang sudah terbuka. "Bapak... kenapa?" tanyakan Dio sambil duduk pelan di samping Bapak. Bapak tersenyum tipis, tapi matanya basah. "Proyek tempat Bapak bekerja sudah selesai, Dio. Dan... tidak ada proyek baru lagi untuk waktu yang lama." dio yang masih kelas 4 SD mungkin belum paham betul arti kata pemutusan hubungan kerja, tetapi ia tahu arti dari mata Bapak yang berkaca-kaca: Bapak sedang merasa gagal. Malam itu, Dio tidak bisa tidur. Ia melihat Bapak duduk di meja makan, memegang krayon dan kertas gambar milik Dio. Bapak menggambar pola-po...
Ini tentang fakta dan realita, bagaimana kehidupan yang sesungguhnya terjadi antara orang tua dan sang anak. Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main dibawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga dipucuk pohon, memakan buahnya Dan tidur tiduran diketeduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel itu sangat mencintai anak kecil tersebut. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel itu. Wajahnya tampak sedih. "apakah kau datang kemari untuk bermain-main denganku," pinta pohon apel itu. "aku bukan anak kecil lagi yang bermain-main dengan pohon," jawab anak lelaki itu. "aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya" Pohon apel itu menyahut, "duh, maaf akupun tak punya uang, tetapi kau...